January Recap

To make sure that I’ll write more in 2017, I’ll try to routinely make a recap of my days in every month, the things I do and/or experienced. So here’s my first attempt: the recap for the first month of 2017!

Books I Read

Bulan ini masih juga berusaha menyelesaikan buku Thinking, Slow and Fast by Daniel Kahneman yang mulai dibaca sejak Desember tahun lalu. Buku ini tentang cara manusia berpikir dan bias-bias yang mungkin timbul dari pikiran kita. Hampir dua bulan penuh dan belum selesai juga, haha.. Tapi memang buku ini sangat padat dan ‘bergizi’, penuh dengan berbagai penelitian dan eksperimen yang sudah dilakukan oleh para peneliti di bidang psikologi dan menghasilkan segala apa yang sekarang diketahui ilmuwan tentang bagaimana manusia berpikir.  Tapi walopun topiknya serius, buku ini ditulis dengan bagus, jadinya ga terlalu berat dan masih menyenangkan untuk dibaca. I plan to make a separate review of this when I’m done.

Movies/Series I Watched

La La Land (of course), dan berujung bingung kenapa semua orang heboh memuji-muji film ini. Fyi, saya ini sebenernya suka lho sama musikal, baik nonton langsung (on stage) maupun di film. Tapi sepanjang paruh pertama film saya ngerasa nggak dapet apa yang bikin film ini bisa masuk kategori istimewa. For me, the romance is unconvincing (no matter how much people rave and praise Ryan and Emma’s ‘chemistry’, I still feel that they were just carefully doing what the director told them to do), the conflict is such a cliché, the singing and dancing are just okay. The half end part of the movie saves it, cos there’s a twist in the end (something really interesting, finally!), and I love the scene montages combined with the dancing.

Musikal, menurut saya, harus emotionally moving. And this movie just didn’t quite do it for me. Well, katanya film ini nostalgic buat orang-orang yang familiar dengan musisi jazz legendaris dan film-film musikal lama Hollywood. Yah, kalo memang ini jualan utamanya, memang ga bakal kebeli sih di saya 😐 It isn’t bad, but it isn’t that (14 Oscar noms!) special either.

the-girl-on-the-train-changes1

The Girl on the Train. Tahun lalu udah baca bukunya dan berpikir premisnya menarik tapi bukunya kurang greget dan kurang dalam menggali sisi-sisi gelap para karaktenya. Agak-agak berasa, yah kok gitu aja. Mungkin karena udah beberapa kali baca thrillernya Gillian Flynn yang, gila, twisted banget, novel Paula Hawkins ini jadi berasa biasa aja. Cuman saya ngerasa buku ini bisa lebih bagus kalo difilmkan, karena toh ga perlu berpanjang lebar kata untuk bisa bikin atmosfer kelam dan twisted kan, tinggal maksimalkan rangkaian adegannya aja. Waktu filmnya keluar, rottentomatoes ngasih rating rotten dengan skor sekitar 40an %. My verdict? It’s not that bad, really. I like the overall atmosphere of the movie, and I love how Emily Blunt acted out the alcoholic Rachel. Di film, yang kurang adalah pemeran villainnya yang kurang ‘psycho’. Endingnya pun jadi berasa kurang nendang.

thecrownnetflix

(5 Episodes of) The Crown. The Crown mengisahkah tentang kehidupan Ratu Elizabeth II (iya, yang neneknya William dan Harry) sejak menikah dan kemudian menggantikan ayahnya menjadi pemegang tahta kerajaan Inggris. Merupakan serial bikinan Netflix termahal hingga saat ini dengan sinematografi, akting, dan akurasi historis yang cukup banyak dipuji. Cukup menghibur untuk ditonton dan jadi bikin penasaran dengan the actual events and characters. Apa bener peristiwanya seperti itu? Apa bener pangeran Phillip orangnya kaya gitu? And stuffs like that. Segala perspektif pribadi dalam serial ini tentu saja hanya ‘tebakan’ karena para anggota senior kerajaan Inggris terkenal sangat tertutup mengenai kehidupan pribadinya, tapi lumayan bisa jadi bumbu drama yang intriguing. Meskipun demikian, setelah 5 episode saya jadi agak bosan 😀 bakal lanjut kalo lagi senggang banget aja kayanya.

(6 episodes of) Goblin. Satu lagi yang hypenya sangat kenceng tapi saya ngerasa belom ‘dapet’ apa yang bikin K-drama satu ini sebegitu istimewanya. Gong Yoo juga udah mayan keliatan tua di sini (walopun tetep charming dan tentunya #bodygoalformen banget, seperti biasa. Sayangnya sih settingnya winter ya, jadi beliau ga pernah shirtless. #eh), masih lebih keren waktu main di Coffee Prince tahun 2007. Setelah 6 episode malah jadi kangen trus nontonin Coffee Prince lagi. But I do plan to finish this series, still. I wonder whether my opinion will change in the end.

Interesting articles

This recap. Karena belakangan ini lagi suka banget sama tema personal growth dan productivity.

How I made sure all 12 of my kids could pay for college themselves. Nggak sampe berpikir ingin menerapkan persis seperti dalam artikel ini, tapi ada beberapa take away principles yang saya suka.

These sleep hacks. Because I looove sleeping, I thinks it’s precious, and I really hate the times when my sleep time is disrupted.

Interesting videos

Adakah yang sama excitednya dengan saya nungguin 17 Maret, tanggal rilis Beauty and the Beast? Sebegitu ga sabarnya sampe saya donlot dan nonton ulang film animasi tahun 1991, menghayati dan ngapalin dalam hati setiap adegan, dialog dan terutama LAGU-LAGUNYA, demi bisa membandingkan dengan versi live-actionnya bulan Maret nanti. Walopun banyak yang skeptis film ini ga akan bisa menyamai aslinya, saya sendiri sincerely hoping that the remake will be EPIC! Jadi harap maklum kalo tiap hari saya hummingnya ‘Something There’ atau ‘Be Our Guest’ 😀

This video about differences via mbak Leija couldn’t be more timely and had successfully made me teary eyed. So good.

Interesting events.

Di luar kunjungan orang tua dan adik ke Jakarta di awal Januari (which was short but sweet and wonderfully made me happy) ga banyak peristiwa istimewa lain yang terjadi di bulan Januari. But that’s a good thing, karena saya jadi lebih bebas mengatur rutinitas dan ritme. I strengthened some good habits (grocery shopping, cooking, exercising, reading, work scheduling) and started some new ones (e.g. journaling) because there weren’t many disruptions in my routines. Even so, bulan Januari kemarin nggak melulu cuma terisi rutinitas biasa. Sempat juga ada episode impulsif seperti mendadak naik commuter line demi nyobain sushi curah di AEON mall 😀 as usual I try to go to places I’ve never been before, and January allowed me to do it several times.

All in all,  it was a good start for 2017 ❤

Advertisements

Hello, 2017!

I’ve been missing writing in this blog a lot!

Terakhir saya menulis di sini adalah April 2015, hampir satu setengah tahun yang lalu, dengan blog post yang berisi berita duka pula 😥  Dari waktu ke waktu rasanya rindu untuk menulis lagi tapi sayangnya sangat sulit untuk menyisihkan waktu di antara kesibukan berusaha menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, stabil dan mapan, sekaligus elegan (yeah right).

But really,  tahun 2016 adalah tahun perjuangan buat saya, mostly karena harus beradaptasi setelah kembali dari tugas belajar ke kehidupan kerja yang jauh berbeda dari jaman kerja tahun 2009-2012 yang lebih banyak happy2nya. However, I had been through a lot of contemplation and learning process  just to get pass it, been getting to know and understand myself more, and in the end I believe I had managed to survive 2016 as a better person (amiinn). By the end of 2016, everything seemed to be clearer and lighter. I wouldn’t say I had figured everything out, but at least I was no longer clueless. And I got my passion and motivation back.

So here’s to 2017, the year in which I want to thrive and flourish. I am currently happy, peaceful with who I am, and eager to become an even better and better version of myself. My 2017 resolution is to keep it that way throughout the year.

Oh, and of course, to write in this blog more often, capturing everything I experience and learn.

Cheers!

My mission in life is not merely to survive, but to thrive; and to do so with some passion, some compassion, some humor, and some style.

Maya Angelou

in memoriam: Hj. Subekti

My dearest beloved grandmother, Hj. Subekti died yesterday.

DSC_0225

Alhamdulillaah, she died peacefully, at the age of seventy-something (she herself was never sure about her own age), and I believe she had lived her life fully. But I still find myself heartbroken in the news of her, quite sudden, passing away. First of all, because I am not there in Indonesia to directly bid her farewell. Second, I feel some kind of hollowness for realizing that I wouldn’t be able to meet her again when I get back. Because she was the kind of person whose presence always made a difference. Her not being there anymore would certainly make everything different.

She was the strongest woman I’ve ever known. She was very influential. She was smart and competent. She was respected. She was tough and powerful. But she also had a soft and very kind heart.

Dear Grandma, good bye..

I am thankful for everything you did for me.

And I am sorry because I know I could have been a better granddaughter, but I hadn’t.

You will stay alive in my memories.

In my prayers and the prayers of so many people you helped, whose life you had made better.

In my determination to be a sholeha granddaughter so that Allah SWT passes you endless blessings.

In my determination to live a good life because I know that was what you always wanted for me.

May Allah SWT accept all your good deeds and forgive all your mistakes.

May Allah SWT put you in a special and better place.

May Allah SWT grant you Jannah for eternity..

I love you, Grandma..

how to be Mindy: have awesome parents

Ada yang suka nonton the Mindy Project nggak sih, selain saya dan Okki?

mindy-project

Kok so far belom nemu ya, orang Indonesia (paling ga yg di sekitar saya) yang doyan sama serial satu ini. Semoga bukan karena lead actress-nya nggak conventionally beautiful yah (which is a pretty lame excuse, of course). The Mindy Project memang nggak perfect sih, tapi tetep salah satu serial komedi favorit saya di TV, karena dialog2 dan one-linernya yang witty, hilarious, dan sangat relatable.

chubby

Plus, siapa sih yang nggak bakal jatuh cinta sama dr. Danny Castellano?

Nah, gara2 suka sama serial ini, tentunya saya juga jadi ngefans sama the girl behind it, Mindy Kaling. I love how despite being a woman of color, she managed to be the youngest writer (at the age of 24) and one of the casts in The Office, wrote her own bestselling book, and finally created her own show. Damn isn’t she powerful?

My favorite part is that Mindy largely addresses her success to her parents, especially her mother, with whom she had a very close relationship.

And her mom’s awesome advice:

My relationship with my mom is really the single most profound relationship that I’ve ever had in my life,” Mindy tells me…But her voice breaks when she starts talking about how she sat down with a pen and paper and asked her mother to give her all the advice she could possibly give her before she died, and Kaling realized she’d never be able to ask her mother for advice again. “I said to her, ‘Mom, I’m going to be so lonely without you.’” She’s crying now but keeps going. “And she just said, ‘You have to be your own best friend. If you always remember that, you will always have someone there with you.’

Mindy just shows how far it can go when parenting’s done right.

I hope I can be the best parent, friend, and partner, for my kids one day. I hope I can convince him/her that he/she is soo loved, and that he/she deserves everything that a tall blonde white man could have 😉

I Travel: Leiden

Belum sempat cerita sama sekali tentang Rotterdam, tapi malah mau cerita tentang jalan2 ke Leiden. Nggak apa2 lah yaa.. mumpung masih segar dalam ingatan.

Iya, berhubung sedang agak ‘kurang kerjaan’ karena jarang kuliah, selain lebih rajin baca saya juga jadi nyari2 kesempatan buat jalan2. Mulai sadar juga kalo masa studi di Belanda cuma tinggal 4-5 bulan, setelah itu bakal langsung diseret kantor buat balik kerja lagi, jadilah mulai panik nge-list hal2 yang belum dilakukan dan tempat2 yang belum dikunjungi di Yuropah, terutama di Belanda.

Perjalanan naik kereta ke Leiden cuma makan waktu sekitar 35 menit dari Rotterdam. Begitu sampai, jalan ga gitu jauh dari Leiden Centraal Station, kami udah sampai di dua attractions menarik, Volkenkunde museum dan Windmills museum. Iya, Leiden ini memang kecil, jadi keliling kota bisa dijabanin hanya dengan jalan kaki (sambil menyusuri kanal2nya yang cantik ^^). Karena udah pernah ke Kinderdijk dan liat2 windmills sampe mabok, kami skip Windmills museum di Leiden ini, langsung ke Volkenkunde.

Windmills museum tampak dari kejauhan

Windmills museum tampak dari kejauhan

SAMSUNG CSC

 Volkenkunde adalah museum etnografi, jadi koleksinya lebih terkait dengan kebudayaan masyarakat atau etnis tertentu. Museumnya ga terlalu besar, dengan koleksi permanen tentang Jepang, Korea, Cina, dan Oceania. Ada bagian tentang Indonesia (yang sepertinya sih temporary, but i might be wrong) dengan koleksi yang kayanya bahkan lebih menarik daripada yang pernah saya liat di Indonesia, dan terawat dengan baik pula. Cuman, yang bikin agak nyesek adalah, they bluntly admit bahwa koleksi mereka ini diambil pada masa penjajahan Indonesia, jadi semacam koleksi rampasan perang gitu lah. Tiket masuk museum  ini 12 euro, tapi bisa dapat student discount 50% kalo bawa kartu pelajar.

 SAMSUNG CSC

Hadiah ultah untuk Ratu Beatrix yang ke-13, dibuat untuk menggambarkan keanekaragaman etnik di daerah jajahannya, Dutch Oost Indies alias Indonesia.

Hadiah ultah untuk Ratu Wilhelmina yang ke-13, dibuat untuk menggambarkan keanekaragaman etnik di daerah jajahannya, Dutch Oost Indies alias Indonesia.

SAMSUNG CSC

Tapi yang jadi highlight kunjungan kali ini adalah temporary exhibition Volkenkunde yang ngebahas tentang Geisha. Berasa banget kalo well researched dan well presented juga, jadinya seru dan menarik. Kalo kaya gini kan jadi semangat buat main ke museum yaaa..

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Para geisha yang terkenal. Ada yang jadi businesswoman, nikah sama bangsawan Amerika, dll.. They’re not as repressed or marginalized as people might thought.

Kok jadi serem kalo udah difoto gini yak..

Kok jadi serem kalo udah difoto gini yak..

nonton documentary step by step dandannya para geisha sebelum berangkat 'dinas'..

Nonton documentary step by step dandannya para geisha sebelum berangkat ‘dinas’..

Para maiko alias geishas on training

Para maiko alias geishas on training

Puas liat2 Volkenkunde, cuma perlu jalan dikit lagi untuk sampe di Oudt Leyden, pancake house tua yang terkenal dengan pancakenya yang segede kapal UFO. Pancakenya enyaakk, ga terlalu manis dan ga bikin enek.

SAMSUNG CSC

Cherry Pancake

Cherry Pancake

Setelah kenyang, kami lanjut jalan ke next destinations: Leiden University, Pieterskerk, Burcht, dan diakhiri dengan nyari2 puisi jawa Ranggawarsita sama Chairil Anwar di Wall of Poems yang tersebar di Leiden. Jalan2 kali ini cukup berbudaya yaa 😀

Bukan jalan2 di Belanda kalo ga ketemu kanal cantik di sana sini

Bukan jalan2 di Belanda kalo ga ketemu kanal cantik di sana sini

SAMSUNG CSC

Kampusnya Sri Sultan HB X dan Willem Alexander, raja Belanda saat ini. Gerbangnya sederhana banget. Mungkin ada bagian yang lebih megah, tapi kami malas nyarinya 😀

Pieterskerk yang ternyata bisa disewa buat gala dinner atau kawinan :D

Pieterskerk, gereja semi Gotik yang sekarang bisa disewa buat gala dinner atau kawinan 😀

SAMSUNG CSC

Monumen, makam, dan lukisan di Pieterskerk

Monumen, makam, dan lukisan di Pieterskerk

Kios es krim lagi rame2nya berhubung udah masuk spring dan bermatahari. Ikut2an deh..

Kios es krim lagi rame2nya berhubung udah masuk spring dan bermatahari. Jd ikut2an deh..

Burcht, benteng di bukit yang dibangun untuk evakuasi banjir.. Kurang tinggi sih utk bisa dapat view seluruh Leiden..

Burcht, benteng di bukit yang dibangun untuk evakuasi banjir.. Masih kurang tinggi sih utk bisa dapat view seluruh Leiden..

Puisi jawa Ranggawarsita di Kraaierstraat 34

Puisi jawa Ranggawarsita di Kraaierstraat 34

Puisi Chairil Anwar di Kernstraat 17a, ternyata di halaman rumah orang dan digembok zzz..

Puisi Chairil Anwar di Kernstraat 17a, ternyata di dalam halaman rumah orang dan digembok zzz..

Overall impression, Leiden ini semacam kota mini yang unyu. Hampir semua attractions bisa dicapai dengan jalan kaki. Yang lumayan bikin kaki gempor, nyari puisi Ranggawarsita sama Chairil Anwar, tapi itu pun karena tujuan lain udah beres sementara hari masih panjang karena sunset baru sekitar jam 7 malam, jadilah sekalian.. Karena capek, kami pilih balik ke Leiden Centraal naik bus aja. Perjalanan hari itu diakhiri dengan makan malam di Eazie, wok Cina halal ga jauh dari stasiun sentral.

Kami sempat bahas juga, enakan tinggal di Leiden yang mini dan mayan tua atau di Rotterdam yang besar dan modern. Leiden mayan cantik, tapi enaknya di Rotterdam mau cari apa aja ada, dan sepertinya lebih ga gampang bosen yaa.. Eits, tapi nanti dulu.. begitu balik ke Leiden Centraal menjelang matahari tenggelam, kota ini mulai ramai dengan para mahasiswa dan mahasiswi rupawan yang udah kelar belajar dan keluar sarang. Eye candy beneeerr.. Kayanya Leiden di malam hari juga ga akan semembosankan itu ya 😀

I Read: Dark Places

Setelah paceklik yang cukup lama dalam hal baca-membaca, akhirnya belakangan ini bisa nyelesein beberapa buku. Sungguh magic! Well, ada beberapa faktor pendukung sih, selain kuliah yang udah mulai jarang (gantinya adalah ngerjain tesis sih, harusnya.. tapi kan tetep butuh selingan toh yaa), perpustakaan kampus juga ternyata punya section khusus novel-novel berbahasa inggris yang bisa dipinjam dengan gratis-tis. Hence, i managed to finish some books and i even made a review in Goodreads again. So here it goes…

download

Dark Places adalah novel kedua Gillian Flynn yang difilmkan (akan rilis di bulan April di beberapa negara Eropa), setelah Gone Girl yang bikin heboh itu.

Kali ini tokoh sentralnya adalah Libby Day, satu2nya survivor dari Kinnakee Kansas Farmhouse Massacre. Satu kasus kriminal di tahun 1985 yang banyak diliput media, di mana ibu dan dua saudara perempuan Libby dibantai oleh (konon) kakaknya sendiri, Ben Day. Libby yang di tahun itu baru berusia tujuh tahun, menjadi saksi di pengadilan yang mempenjarakan kakaknya untuk seumur hidup. Sejak itu Libby hidup dari bantuan para donatur yang jatuh iba dengan kisahnya, tanpa pernah menemui kakaknya di penjara, menyimpan semua kenangan tentang malam naas itu di Dark Places, sebuah sudut gelap yang tak ingin dia buka lagi. Di usia 32 tahun, Libby bukan seorang dewasa yang utuh, kehabisan uang, tanpa pekerjaan, dan kesulitan mengurus diri sendiri. Lyle Wirth dari Kill Club, klub geek-detektif amatir yang tertarik pada kasus keluarga Libby, percaya bahwa Ben Day tak bersalah dan menawarkan uang agar Libby mau menghubungi orang2 kunci yang terkait malam pembantaian keluarganya, memaksa Libby menelusuri Dark Places dan mencari tahu pelaku sebenarnya.

Dark Places diceritakan dari 3 sudut pandang, Libby Day dengan setting saat ini, serta Patty Day (ibu Libby) dan Ben Day pada hari kejadian 25 tahun yang lalu, jam demi jam mendekati waktu terjadinya pembantaian.

Sebenarnya saya lebih banyak memilih buku2 yang enjoyable untuk dibaca, makanya di awal2 baca Dark Places sempat agak kaget juga. Kisah tentang keluarga Day, bahkan sebelum dibantai, sebegitu tragis dan sedihnya sehingga bikin novel ini sangat terrorizing. Kalo lagi bad mood mungkin mending ga usah baca novel ini, bisa bikin tambah kelam dan mikir: etdah dunia ini bener2 ga ada bagus2nya! Baru kemudian saya ingat, ah iya, yang bikin kan Gillian Flynn, yang emang paling jago bikin cerita yang disturbing abis macam Gone Girl. Saking terrorizingnya, kadang sampe berasa baca dengan mata agak terpicing dan nahan napas, kuatir dengan tragedi macam apa lagi yang bakal muncul di halaman selanjutnya. Kisah jam demi jam menuju waktu kejadian di mata Patty Day dan Ben Day di beberapa bagian terasa sangat menegangkan.

Tapi pada akhirnya, ketika saya udah mulai terbiasa dengan kekelaman kisah keluarga Day, plot Dark Places ini sebenarnya semacam cerita detektif ‘whodunnit’ biasa ala Agatha Christie atau bahkan detektif Conan, walopun plotnya memang cukup menarik dan sukses bikin penasaran. Flynn menyebar petunjuk dan ‘red herring’ dengan lihai di sana sini, bikin saya kesel karena ga berhasil nebak siapa pelaku sebenarnya, padahal clue yang tersedia udah lumayan jelas 😀 Setelah tragedi demi tragedi, alhamdulillaah yaa, ternyata ending buku ini ‘lumayan’ happy, ga disturbing atau gantung, jadi ga usah kuatir ga bisa tidur setelah selesai bacanya. Plot twistnya masih ga se’kacau’ Gone Girl, jadi overall, belum seimpressive masterpiece Flynn yang satu itu.

A bit about the movie version: Libby di buku digambarkan mungil rapuh berambut merah, makanya agak heran juga kenapa Libby versi film diperankan Charlize Theron yang jangkung dan berkesan tangguh. Trailernya pun menurut saya kurang kelam, dan kurang berkesan well made, beda banget sama trailer Gone Girl yang bikin penasaraann. Mayan spoiler pulak zzz… bikin kzl! Tapi ya sudahlah ya, we’ll see. Bertabur bintang ceu! Ada Chloe Moretz sama Nicholas Hoult juga di situ. Here goes the movie’s France trailer:

a wish

May your coming year be filled with magic and dreams and good madness. I hope you read some fine books and kiss someone who thinks you’re wonderful, and don’t forget to make some art — write or draw or build or sing or live as only you can. And I hope, somewhere in the next year, you surprise yourself.

Thank you. It’s very kind of you, Mr. Gaiman.

Aamiin.. 🙂