in memoriam: Hj. Subekti

My dearest beloved grandmother, Hj. Subekti died yesterday.

DSC_0225

Alhamdulillaah, she died peacefully, at the age of seventy-something (she herself was never sure about her own age), and I believe she had lived her life fully. But I still find myself heartbroken in the news of her, quite sudden, passing away. First of all, because I am not there in Indonesia to directly bid her farewell. Second, I feel some kind of hollowness for realizing that I wouldn’t be able to meet her again when I get back. Because she was the kind of person whose presence always made a difference. Her not being there anymore would certainly make everything different.

She was the strongest woman I’ve ever known. She was very influential. She was smart and competent. She was respected. She was tough and powerful. But she also had a soft and very kind heart.

Dear Grandma, good bye..

I am thankful for everything you did for me.

And I am sorry because I know I could have been a better granddaughter, but I hadn’t.

You will stay alive in my memories.

In my prayers and the prayers of so many people you helped, whose life you had made better.

In my determination to be a sholeha granddaughter so that Allah SWT passes you endless blessings.

In my determination to live a good life because I know that was what you always wanted for me.

May Allah SWT accept all your good deeds and forgive all your mistakes.

May Allah SWT put you in a special and better place.

May Allah SWT grant you Jannah for eternity..

I love you, Grandma..

how to be Mindy: have awesome parents

Ada yang suka nonton the Mindy Project nggak sih, selain saya dan Okki?

mindy-project

Kok so far belom nemu ya, orang Indonesia (paling ga yg di sekitar saya) yang doyan sama serial satu ini. Semoga bukan karena lead actress-nya nggak conventionally beautiful yah (which is a pretty lame excuse, of course). The Mindy Project memang nggak perfect sih, tapi tetep salah satu serial komedi favorit saya di TV, karena dialog2 dan one-linernya yang witty, hilarious, dan sangat relatable.

chubby

Plus, siapa sih yang nggak bakal jatuh cinta sama dr. Danny Castellano?

Nah, gara2 suka sama serial ini, tentunya saya juga jadi ngefans sama the girl behind it, Mindy Kaling. I love how despite being a woman of color, she managed to be the youngest writer (at the age of 24) and one of the casts in The Office, wrote her own bestselling book, and finally created her own show. Damn isn’t she powerful?

My favorite part is that Mindy largely addresses her success to her parents, especially her mother, with whom she had a very close relationship.

And her mom’s awesome advice:

My relationship with my mom is really the single most profound relationship that I’ve ever had in my life,” Mindy tells me…But her voice breaks when she starts talking about how she sat down with a pen and paper and asked her mother to give her all the advice she could possibly give her before she died, and Kaling realized she’d never be able to ask her mother for advice again. “I said to her, ‘Mom, I’m going to be so lonely without you.’” She’s crying now but keeps going. “And she just said, ‘You have to be your own best friend. If you always remember that, you will always have someone there with you.’

Mindy just shows how far it can go when parenting’s done right.

I hope I can be the best parent, friend, and partner, for my kids one day. I hope I can convince him/her that he/she is soo loved, and that he/she deserves everything that a tall blonde white man could have 😉

I Travel: Leiden

Belum sempat cerita sama sekali tentang Rotterdam, tapi malah mau cerita tentang jalan2 ke Leiden. Nggak apa2 lah yaa.. mumpung masih segar dalam ingatan.

Iya, berhubung sedang agak ‘kurang kerjaan’ karena jarang kuliah, selain lebih rajin baca saya juga jadi nyari2 kesempatan buat jalan2. Mulai sadar juga kalo masa studi di Belanda cuma tinggal 4-5 bulan, setelah itu bakal langsung diseret kantor buat balik kerja lagi, jadilah mulai panik nge-list hal2 yang belum dilakukan dan tempat2 yang belum dikunjungi di Yuropah, terutama di Belanda.

Perjalanan naik kereta ke Leiden cuma makan waktu sekitar 35 menit dari Rotterdam. Begitu sampai, jalan ga gitu jauh dari Leiden Centraal Station, kami udah sampai di dua attractions menarik, Volkenkunde museum dan Windmills museum. Iya, Leiden ini memang kecil, jadi keliling kota bisa dijabanin hanya dengan jalan kaki (sambil menyusuri kanal2nya yang cantik ^^). Karena udah pernah ke Kinderdijk dan liat2 windmills sampe mabok, kami skip Windmills museum di Leiden ini, langsung ke Volkenkunde.

Windmills museum tampak dari kejauhan

Windmills museum tampak dari kejauhan

SAMSUNG CSC

 Volkenkunde adalah museum etnografi, jadi koleksinya lebih terkait dengan kebudayaan masyarakat atau etnis tertentu. Museumnya ga terlalu besar, dengan koleksi permanen tentang Jepang, Korea, Cina, dan Oceania. Ada bagian tentang Indonesia (yang sepertinya sih temporary, but i might be wrong) dengan koleksi yang kayanya bahkan lebih menarik daripada yang pernah saya liat di Indonesia, dan terawat dengan baik pula. Cuman, yang bikin agak nyesek adalah, they bluntly admit bahwa koleksi mereka ini diambil pada masa penjajahan Indonesia, jadi semacam koleksi rampasan perang gitu lah. Tiket masuk museum  ini 12 euro, tapi bisa dapat student discount 50% kalo bawa kartu pelajar.

 SAMSUNG CSC

Hadiah ultah untuk Ratu Beatrix yang ke-13, dibuat untuk menggambarkan keanekaragaman etnik di daerah jajahannya, Dutch Oost Indies alias Indonesia.

Hadiah ultah untuk Ratu Wilhelmina yang ke-13, dibuat untuk menggambarkan keanekaragaman etnik di daerah jajahannya, Dutch Oost Indies alias Indonesia.

SAMSUNG CSC

Tapi yang jadi highlight kunjungan kali ini adalah temporary exhibition Volkenkunde yang ngebahas tentang Geisha. Berasa banget kalo well researched dan well presented juga, jadinya seru dan menarik. Kalo kaya gini kan jadi semangat buat main ke museum yaaa..

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Para geisha yang terkenal. Ada yang jadi businesswoman, nikah sama bangsawan Amerika, dll.. They’re not as repressed or marginalized as people might thought.

Kok jadi serem kalo udah difoto gini yak..

Kok jadi serem kalo udah difoto gini yak..

nonton documentary step by step dandannya para geisha sebelum berangkat 'dinas'..

Nonton documentary step by step dandannya para geisha sebelum berangkat ‘dinas’..

Para maiko alias geishas on training

Para maiko alias geishas on training

Puas liat2 Volkenkunde, cuma perlu jalan dikit lagi untuk sampe di Oudt Leyden, pancake house tua yang terkenal dengan pancakenya yang segede kapal UFO. Pancakenya enyaakk, ga terlalu manis dan ga bikin enek.

SAMSUNG CSC

Cherry Pancake

Cherry Pancake

Setelah kenyang, kami lanjut jalan ke next destinations: Leiden University, Pieterskerk, Burcht, dan diakhiri dengan nyari2 puisi jawa Ranggawarsita sama Chairil Anwar di Wall of Poems yang tersebar di Leiden. Jalan2 kali ini cukup berbudaya yaa 😀

Bukan jalan2 di Belanda kalo ga ketemu kanal cantik di sana sini

Bukan jalan2 di Belanda kalo ga ketemu kanal cantik di sana sini

SAMSUNG CSC

Kampusnya Sri Sultan HB X dan Willem Alexander, raja Belanda saat ini. Gerbangnya sederhana banget. Mungkin ada bagian yang lebih megah, tapi kami malas nyarinya 😀

Pieterskerk yang ternyata bisa disewa buat gala dinner atau kawinan :D

Pieterskerk, gereja semi Gotik yang sekarang bisa disewa buat gala dinner atau kawinan 😀

SAMSUNG CSC

Monumen, makam, dan lukisan di Pieterskerk

Monumen, makam, dan lukisan di Pieterskerk

Kios es krim lagi rame2nya berhubung udah masuk spring dan bermatahari. Ikut2an deh..

Kios es krim lagi rame2nya berhubung udah masuk spring dan bermatahari. Jd ikut2an deh..

Burcht, benteng di bukit yang dibangun untuk evakuasi banjir.. Kurang tinggi sih utk bisa dapat view seluruh Leiden..

Burcht, benteng di bukit yang dibangun untuk evakuasi banjir.. Masih kurang tinggi sih utk bisa dapat view seluruh Leiden..

Puisi jawa Ranggawarsita di Kraaierstraat 34

Puisi jawa Ranggawarsita di Kraaierstraat 34

Puisi Chairil Anwar di Kernstraat 17a, ternyata di halaman rumah orang dan digembok zzz..

Puisi Chairil Anwar di Kernstraat 17a, ternyata di dalam halaman rumah orang dan digembok zzz..

Overall impression, Leiden ini semacam kota mini yang unyu. Hampir semua attractions bisa dicapai dengan jalan kaki. Yang lumayan bikin kaki gempor, nyari puisi Ranggawarsita sama Chairil Anwar, tapi itu pun karena tujuan lain udah beres sementara hari masih panjang karena sunset baru sekitar jam 7 malam, jadilah sekalian.. Karena capek, kami pilih balik ke Leiden Centraal naik bus aja. Perjalanan hari itu diakhiri dengan makan malam di Eazie, wok Cina halal ga jauh dari stasiun sentral.

Kami sempat bahas juga, enakan tinggal di Leiden yang mini dan mayan tua atau di Rotterdam yang besar dan modern. Leiden mayan cantik, tapi enaknya di Rotterdam mau cari apa aja ada, dan sepertinya lebih ga gampang bosen yaa.. Eits, tapi nanti dulu.. begitu balik ke Leiden Centraal menjelang matahari tenggelam, kota ini mulai ramai dengan para mahasiswa dan mahasiswi rupawan yang udah kelar belajar dan keluar sarang. Eye candy beneeerr.. Kayanya Leiden di malam hari juga ga akan semembosankan itu ya 😀