memories of Belitung

Hari ini, berawal dari install Picasa di kompi, ended up browsing foto2 lama dan ganti propic Twitter dan Couchsurfing (yang belom lama dibikin xD) yang tanpa sadar ternyata punya ‘tema’ sama kaya propic akun CS neng Stephy, arms wide open 😀 Ujung2nya malah sekalian pengen jadiin pose itu trademark dan nodong satu lagi anggota geng kami, nona Ipin, untuk bikin akun CS juga dan pasang propic dengan gaya yang sama 😀

Anywaayy.. karena tadi udah browse foto2 lama, jadi sekalian pengen posting beberapa foto memories of Belitung, from last April. There’s another sense of nostalgia, karena foto2 ini diambil dari hape Nokia jadul dengan kamera 3 MP yang ga lama kemudian lenyap diembat jambret yang jahat. Kecil2 cabe rawit, ternyata 3 MP pun cukup bisa diandalkan untuk mengawetkan kenangan :’)

So, ladies and gentlemen, I present to you, the friendly and harmless beauty of Belitung…

Image

Image

Image it’s pure and crystal clear!

Image

the beach needs our love. keep it clean and lovely.

Image

a lonely rubber boat…

Image

Gangan, gulai ikan khas Belitung. very very tasty :9

06042012763

the gigantic stones are calm and quiet.. :)

the gigantic stones are calm and quiet.. 🙂

Image

kids playing happily and safely

Image

colorful boats. the clouds are hanging very low..

Image

dari arah dermaga..

Image

Image

menanti senja..

Image

hope it will stay this clear, forever..

Image

belitung 128

Advertisements

Festival Sinema Perancis 2012 dan The Intouchables

Jadi 2012 adalah (kurang lebih) tahun ketiga saya berada di Jakarta, dan sejak 2010 dimulailah tradisi saya ikut ‘merayakan’ Festival Sinema Perancis (FSP).

poster-festival-sinema-perancis-edisi-15

Tahun itu memang lagi rajin2nya main ke segala macam film festival, dari Festival Film Turki, Eropa, sampe Korea. Semuanya seru sih, tapi di antara yang lain FSP lah yang paling ga mengecewakan dan konsisten berlanjut sampe tahun selanjutnya. Waktu itu setidaknya saya nonton 4 film:

  • Les Enfants de Timpelbach (komedi-fantasi anak, seru dan lucuuu ^^)
  • Le Code a Change (drama komedi)
  • Le Concert (drama tentang kelompok orkestra yang kembali tampil setelah vakum sekian lama. Lumayan sekalian nonton konser di layar lebar :3)
  • Vertige (thriller-slasher, sekumpulan orang mendaki gunung, kemudian mati satu demi satu -___-“)

and it was fun! Satu2nya yang disesali ya Vertige. Tadinya sih ditonton karena penasaran gimana kalo orang Perancis bikin film thriller, ternyata ya sama aja banyak darahnya (yaiyalah) dan bikin saya tersiksa.. 😐

FSP 2011

Lanjut ke tahun kedua, 2011, yang sempat saya tonton adalah

  • Hands Up (drama – komedi tentang sekumpulan anak yang melindungi teman mereka yang terlahir sebagai imigran gelap, lucu dan mengharukan sekaligus :’))
  • L’Age d’Raison (drama dengan sedikit fantasi dan komedi, dibintangi Sophie Marceau),
  • Il Reste du Jambon (drama komedi tentang pasangan suami istri dr latar belakang budaya yang berbeda – Prancis & Arab kalo ga salah ingat)
  • La Danse (dokumenter tentang Paris Opera Ballet)

dan aseli semuanya baguuuss.. Tahun 2011 ini saya inget banget ada beberapa film lain yang sinopsisnya menarik tapi bikin frustasi karena jadwal yang bentrok bikin ga mungkin nonton semuanya, misalnya film animasi Kerity dan komedi L’Arnacoeur.

Kemudian sampailah kita di tahun 2012. Sampe hampir akhir tahun, ga kedengeran tuh berita tentang FSP dan saya sendiri pun lupa. Baru sekitar bulan Oktober tiba2 ingat, mengira udah ketinggalan, dan karena mulai mellow kepikiran bahwa bentar lagi (insya Allah) bakal meninggalkan Jakarta, saya jadi sedih karena merasa udah kehilangan kesempatan nonton di tahun terakhir saya di kota ini. Untunglah, dari akun twitter @IIF_Jakarta dapat info bahwa FSP baru akan diadakan di tanggal 8-10 Desember. Masih ada harapan. Yeaaayy!! *\(^.^)/*

FSP 2012

Ternyata tahun ini sedikit beda. Venue yang biasanya di Platinum XXI fX, kali ini pindah ke Plaza Indonesia XXI. Trus kalo biasanya festival berlangsung selama kurang lebih seminggu dengan lebih dari 15 film, kali ini cuma tiga hari dan hanya 8 film saja (di luar pemutaran film2 karya Olivier Assayas yang jadi fokus FSP tahun ini). Ditambah dengan jadwal yang kurang nyaman (sebagian film tayang jam 5 sore yang pastinya bakal kepotong waktu shalat Maghrib, malesin kaann, plus sebagian tayang di hari kerja – 10 Desember, hari Senin), akhirnya saya cuma sempat nonton satu film, The Intouchables.

the_intouchables_final

Sebagai satu2nya film yang ditonton di FSP 2012, The Intouchables (2011) sama sekali ga mengecewakan. Konon merupakan film Perancis yang paling banyak ditonton di seluruh dunia, film ini memang crowd-pleaser yang mengundang tawa tapi tetap membawa pesan juga :’)

Diilhami oleh kisah nyata, film ini berkisah tentang Philippe (Francois Cluzet), seorang jutawan Perancis yang ditinggal mati oleh istrinya, dan kemudian mengalami kecelakaan paragliding hingga lumpuh seluruh badan (quadriplegic). Philippe kemudian mempekerjakan seorang mantan napi dari jalanan yang ga niat kerja, Driss (Omar Sy), untuk merawat dan membantunya melakukan kegiatan seharihari. Alasan Philippe pada keluarganya yang heran: Driss tidak memperlakukannya dengan rasa kasihan. Dan ya emang bener sih, Driss yang semaunya sendiri cuek2 aja ngetawain penderitaan Philippe, tapi dengan cara yang membuat mereka tertawa bersama. Seperti tagline ‘Sometimes you have to reach into someone else’s world, to find what’s missing in your own’, pada akhirnya Philippe dan Driss bersahabat dan saling belajar dari satu sama lain. Philippe belajar untuk lebih santai, tertawa dan menikmati hidup apapun keadaannya, sementara Driss belajar etika, mengendalikan emosi, dan seni kelas tinggi khas kalangan berada.

The Intouchables - Laugh

Tema two-worlds-collide mungkin sudah klise dan dipakai berulang kali di berbagai film, but watching The Intouchables is truly a fun joyride. Selain script dan alurnya yang terasa pas, dua pemeran utamanya juga istimewa. Omar Sy dengan effortless mengundang tawa dengan segala tingkah polahnya. Sementara Cluzet yang harus berakting hanya dengan mimik muka, pintar sekali menunjukkan suasana hatinya: sedih, patah semangat, tertekan, atau bersinar bahagia. Termasuk saat Philippe tampak geli dengan segala kekonyolan Driss, itu gelinya beneran kerasa 😀

Overall, The Intouchables adalah pilihan tepat buat yang pengen melepas stres dan tertawa (dvdnya ada sih, tapi sepertinya efek film ini bakal lebih terasa di layar lebar :D). Pesan utamanya, buat saya: ga usah drama. Saat2 sulit dalam hidup pasti ada, tapi kita bisa memilih untuk bersikap praktis dan tetap tertawa. *hazek* 😀

So, that was my only movie in my (supposedly and hopefully temporarily) last FSP in Jakarta. Tiga tahun mengikuti FSP, saya berkesimpulan bahwa film Perancis itu sangat menyegarkan di antara kepungan film2 Hollywood di bioskop lokal. Temanya beragam dan seringkali disajikan dalam sudut pandang dan alur yang unik dan ga biasa. Tapi favorit saya untuk film Perancis tetep: komedi dan drama anak/keluarga. Kenapa? Selain karena menyenangkan tapi tetap membawa pesan, juga untuk menghindari adegan ranjang yang vulgar khas film2 Eropa 😀

So, buat yang belum pernah ngerasain nonton Festival Sinema Perancis, coba aja tahun depan yaa 😉